Bidang Kemanusiaan

Pendidikan Inklusif

Visi

Bidang Kemanusiaan dan Pendidikan

Menjadi pelopor dalam mewujudkan Indonesia yang inklusif melalui penyelenggaraan pendidikan yang memberdayakan serta memanusiakan.

Misi

Bidang Kemanusiaan dan Pendidikan

  • Memberdayakan antara lain individu dengan disleksia.
  • Bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan, untuk pengembangan para murid yang berbeda cara belajar.
  • Memastikan akses pendidikan yang setara dan berkualitas.
  • Meningkatkan kesadaran melalui informasi akurat dan berbasis data.

Pendidikan Inklusif

  • Proses pembelajaran yang menjawab keragaman kebutuhan seluruh murid, dilakukan secara partisipatif.
  • Pendidikan inklusif mengurangi berbagai bentuk pengecualian pendidikan tersebut.
  • Response to Intervention (RtI): yakni proses pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode pengajaran berbasis riset.
  • Metode tersebut membantu mereka yang berkebutuhan khusus/mempunyai tantangan dalam belajar.
  • Dua strategi khusus yang disarankan dalam RtI adalah:
    • Universal Design for Learning (UDL): Perancangan sejak awal (silabus) yang menyediakan berbagai opsi bagi para murid. Baik melalui representasi, aksi-ekspresi, maupun keterlibatan.
    • Differentiated Instruction (DI): Proses pembelajaran yang mengedepankan identifikasi kebutuhan belajar murid dengan memodifikasi konten, proses, produk, serta lingkungan belajar sesuai tingkat kesiapan, minat, serta gaya belajar.
    • UDL didesain sejak awal untuk semua murid (desain proaktif).
    • DI adalah penyesuaian pembelajaran sesuai dengan tingkat kesiapan murid tertentu (desain responsif).

Sumber referensi:
CAST (2023). Universal Design for Learning Guidelines,
National Center for Education Evaluation and regional Assistance. Assisting Students Struggling With Reading: Response to Intervention (RtI) and Multi-Tier Intervention in the Primary Grades (2009), Instutute of Education Sciences

Peran Guru dalam Universal Design for Learning

  • Representasi:
    • Menggunakan stimulasi secara visual, auditory, dan material bahan ajar yang konkret
  • Aksi-ekspresi:
    • Dekat dengan kehidupan murid
    • Kontekstual dalam menyikapi permasalahan sehari-hari
  • Keterlibatan:
    • Kemampuan guru membuat desain dan pendekatan pembelajaran sesuai dengan tingkat dan minat murid.

Sumber referensi:
Harvard Graduate School of Education (2023). UDL Implementation Research

Apa itu Disleksia ?

  • Kebutuhan khusus tentang belajar spesifik yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam membaca dan mengeja.
  • Pada umumnya anak disleksia memiliki tingkat kecerdasan normal bahkan adapula yang diatas rata-rata.
  • Anak anak tersebut membutuhkan pendekatan belajar yang berbeda.
  • Disleksia berpengaruh untuk memahami huruf, bunyi, dan kata.
  • Keadaan ini disebabkan oleh perbedaan cara kerja otak dalam memproses informasi Bahasa.

Sumber referensi:: Shaywitz, S. (2020). Overcoming Dyslexia. Knopf

Ciri awal untuk diperhatikan

  • Menurut beberapa sumber referensi, ada beberapa ciri awal yang harus diperhatikan.
  • Namun diagnosa tenaga professional tetap dibutuhkan untuk menentukan apakah seseorang tersebut benar terdeteksi disleksia atau tidak.
  • Berikut adalah observasi awal yang bisa diperhatikan:
    • Kesulitan menyadari kata kata yang berbunyi mirip atau berima
    • Kesulitan menggabungkan bunyi menjadi kata
    • Sering lupa huruf yang sudah dipelajari sebelumnya
    • Berbicara lebih lambat dibanding anak seusianya
    • Kesulitan menemukan kata yang ingin diucapkan
    • Riwayat keluarga

Sumber referensi: International Dyslexia Association – https://dyslexiaida.org/

Beberapa Karakteristik Anak dengan Disleksia

  • (0-6) tahun:
    • Biasanya salah mengucapkan kata (terbalik), terlambat bicara, kesulitan mengikuti lagu berima, kesulitan menyampaikan urutan sederhana, kesulitan mengenali dan menulis namanya sendiri
  • (6-8) tahun:
    • Kesulitan/kebingungan dalam belajar huruf dan bunyinya, kebingungan dengan huruf yang memiliki bentuk yang mirip (d/t, b/p, l/i)
  • (8-11) tahun
    • Sering membaca huruf terbalik dan kesulitan mengeja. Biasanya mereka menghindari pembelajaran membaca dan menulis.

Sumber referensi:: Shaywitz, S. (2020). Overcoming Dyslexia. Knopf

Pola Unik anak Disleksia

  • Terdapat fungsi eksekutif dalam otak dimana 30-50% anak disleksia  tersebut mengalami proses yang berbeda.
  • Anak disleksia mengalami kesulitan dalam menyimpan/mengolah informasi verbal yang terdapat dalam working memory-nya
  • Bantuan untuk inhibitory control dengan mengurangi impulsifitas dan distraksi. Fokus kepada detail.
  • Menggunakan berbagai teknik strategi transisi pembelajaran.
  • Pendekatan cognitive flexibility karena anak disleksia memiliki pemikiran divergen yang khas.

Sumber referensi

  • Yale Center for Dyslexia & Creativity (2023). Executive Function and Dyslexia.
  • Hoeft, F. et al. (2021). Neural Systems Prediction in Children with Dyslexia. Nature Neuroscience.
  • Journal of Learning Disabilities (2022). Executive Function Profiles in Developmental Dyslexia

Pendekatan Pembelajaran yang Personal
bagi Anak Disleksia

  • Pengajaran berdiferensiasi
    • Guru untuk disleksia sebaiknya menyesuaikan metode pengajaran dengan tingkat kesiapan, minat, dan gaya belajar murid
  • Metode Orton-Gillingham
    • Metode yang menggabungkan pendengaran, penglihatan, dan gerakan
    • Teknik tambahan lainnya adalah dengan cara chunking (memecah informasi) dan scaffolding (dukungan bertahap)

Sumber referensi

  • National Center for Education Evaluation and regional Assistance. Assisting Students Struggling With Reading: Response to Intervention (RtI) and Multi-Tier Intervention in the Primary Grades (2009).Instutute of Education Sciences.
  • Tomlinson, Carol Ann, (2008) How to Differentiate Instruction in Academically Diverse Classroom.